MENGENAL ARSITEK YU SING DAN SALAH SATU KARYANYA

SIAPAKAH YU SING ITU?
YU SING
Arsitek muda ini lahir di Bandung pada 5 Juli. Yu Sing menyelesaikan pendidikan arsitekturnya di jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung pada tahun 1999. Usai menyelesaikan pendidikannya, Yu Sing mendirikan studio arsitektur yang diberi nama “Genesis”. Genesis adalah biro konsultan desain dengan semangat eksplorasi arsitektur kontemporer terhadap bentuk-bentuk geometris yang kuat.
Pada bulan Juni 2011, Genesis berubah nama menjadi akanoma, yang merupakan singkatan dari akar anomali yakni memperkuat komitmen untuk senantiasa berakar pada konteks potensi Indonesia dan persoalan masyarakat yang “terpinggirkan”. Dalam proyek ini, ia bersama dengan rekan-rekannya membantu memberikan desain gratis dan juga ikut menggalang dana untuk membuat rumah layak huni yang aman bagi beberapa masyarakat yang kurang mampu. 
Tekad yang selalu ia ialah bahwa arsitektur adalah untuk semua, tidak terbatas pada kalangan menengah ke atas saja. Terbukti pada buku karya pertamanya yaitu buku "mimpi RUMAH MURAH" memiliki misi memasyarakatkan arsitektur dengan banyak membantu desain rumah murah di berbagai daerah di Indonesia dengan jasa desain murah--yang diterbitkan Transmedia Pustaka. Karakter desainnya, terutama untuk karya rumah tinggal, memperlihatkan elemen dari budaya lokal tempat bangunan berada.
Karya-karya Yu Sing cukup banyak diliput di berbagai media arsitektur di Indonesia maupun Asia Pasifik. Bersama rekan-rekannya dalam tim desain, ia aktif mengikuti berbagai sayembara desain arsitektur sejak masih kuliah. Beberapa  di antaranya menjadi pemenang, yaitu pemenang ke-1 Gereja Kristen Indonesia Anugerah Bandung, pemenang ke-2 Sekolah internasional BPK Penabur Singgasana Pradana Bandung, pemenang ke-1 TK Internasional BPK penabur Bahureksa Bandung, pemenang ke-3 Taman Rakyat Cimahi, Top 10 Fasade Rumah Ide, pemenang ke-1 Desain Muka Jakarta Design Centre, pemenang ke-6 Taman Borobudur Jakarta, finalis Sekolah internasional BPK Penabur Banda Bandung, pemenang ke-3 Desain Muka dan interior Galeri Indogress Tangerang, pemenang ke-5 Rumah Sakit Akademik UGM Yogyakarta, dan pemenang ke-1 Gedung Pelayanan Pusat Akademik Universitas Negeri Makassar (menara 17 lantai).


SALAH SATU KARYA YU SING : MENARA PHINISI UNM

Karya ini merupakan pemenang pertama sayembara Gedung Pusat Pelayanan Akademik Universitas Negeri Makassar. Ini merupakan karya pertama untuk gedung tinggi (17 lantai). Tim desain: Yu Sing, Benyamin K Narkan, Eguh Murthi Pramono, Iwan Gunawan. 

Konsep Desain
Gedung Pusat Pelayanan Akademik UNM didesain sebagai ikon baru bagi UNM, kota Makassar, dan sekaligus Sulawesi Selatan. Eksplorasi desain GPPA UNM mengutamakan pada pendalaman kearifan lokal sebagai sumber inspirasi, yaitu makna Logo UNM, Rumah Tradisional Makassar, falsafah hidup masyarakat Sulawesi Selatan (Sulapa Eppa / empat persegi), dan maha karya Perahu Pinisi sebagai simbol kejayaan, kebanggaan, dan keagungan.
GPPA UNM sebagai IKON BARU yang merupakan gedung tinggi pertama di Indonesia dengan sistem fasade Hiperbolic Paraboloid, merupakan ekspresi futuristik dari aplikasi kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangunan Pusat Pelayanan Akademik UNM merupakan perwujudan dari serangkaian makna, fungsi, dan aplikasi teknologi yang ditransformasikan ke dalam sosok arsitektur. Kekayaan makna tersebut akan meningkatkan nilai arsitektur GPPA UNM menjadi lebih dari sekedar sosok estetis, tetapi juga memiliki keagungan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Gedung Pusat Pelayanan Akademik UNM
Seperti pada Rumah Tradisional Makassar yang terdiri dari 3 bagian (kolong/awa bola, badan/lotang, dan kepala/rakkeang) dan dipengaruhi struktur kosmos (alam bawah, alam tengah, dan alam atas), GPPA UNM juga teriri dari 3 bagian:

1. Bagian bawah berupa kolong/panggung.
Bagian kolong ini posisinya terletak 2 meter di atas jalan agar bangunan terlihat lebih megah dari lingkungan sekitarnya. Lantai kolong ini didesain menyatu dengan lansekap yang didesain miring sampai ke pedestrian keliling lahan.

2. Bagian badan berupa podium.
Podium terdiri dari 3 lantai, simbol dari 3 bagian badan pada Rumah Tradisional Makassar (bagian depan/lotang risaliweng, ruang tengah/Lotang ritenggah, dan ruang belakang/Lontang rilaleng). Bagian podium ini juga bermakna ganda sebagai simbol dari tanah dan air.

3. Bagian kepala berupa menara.
Menara terdiri dari 12 lantai yang merupakan metafora dari layar perahu Pinisi dan juga bermakna ganda sebagai simbol dari angin dan api.


Sumber :


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer